1. “Saya Tidak Mampu Membelinya”
Keberatan yang seringkali muncul adalah
“Saya tidak mampu membelinya”. Untuk mengatasi keberatan ini biasanya saya
katakana kepada prospek, “Pak/Bu prospek, demikian juga halnya dengan kematian.
Bapak/Ibu tidak akan mampu menghindarinya tetapi satu hari nanti kematian akan
menjemput kita. Saya selalu beritahukan mereka bahwa bagaimanapun, suatu hari
nanti seseorang akan membayarkan untuk asuransi mereka. Pilihan ada di tangan
mereka. Apakah mereka lebih suka membayarnya dengan mudah pada saat ini, atau
membayar dengan cara yang lebih sukar kelak. Salah satu pilihan tetap harus
diambil.
Banyak prospek yang mengatakan biaya
asuransi cukup memberatkan. Ingatkan kepada mereka bahwa yang memberatkan
mereka bukanlah asuransi tetapi hidup mereka sendiri. Apapun yang ingin mereka
capai pasti memerlukan uang.
2. “Saya Bicarakan Dulu Dengan Istri”
Bagaimana menghadapai prospek yang mengatakan, “Program ini
bagus dan menarik. Tapi saya akan bicarakan dulu dengan istri.”
Untuk prospek seperti ini saya sudah memilik stok jawaban seperti
ini, “Baiklah pak, ide yang sangat baik untuk mendiskusikan hal ini dengan
istri bapak. Tetapi jangan
lupa pak, tanyakan juga hal ini kepada anak-anak. Karena seperti yang sudah
bapak ketahui program ini akan sangat bearti sekali buat masa depan mereka.
Seandainya mereka termasuk keluarga
yang penuh dengan kasih sayang, saya yakin penjualan pun akan berhasil.
3. “Bagaimana Menurutmu, Sayang?”
Apa yang anda katakan apabila saat
melakukan wawancara dengan suami istri dan tiba-tiba sang suami bertanya kepada
istrinya, “Bagaimana sayang, apakah saya perlu membelinya?”
Biasanya, saya langsung berpaling
kepada sang istri sambil tersenyum mengatakan, “Bu jangan jawab pertanyaannya.
Hanya ada dua jawaban yang bisa ibu berikan untuk suami ibu. Jika ibu mengatakan
“Ya” lalu suami ibu membeli. Pada suatu saat ibu bertengkar dengan bapak, terus
bapak sakit dan ibu lupa membawakan dia obat pada saat bapak harus meminumnya,
bapak akan berkata dengan marah “Apa yang kamu pedulikan dari saya? Toh kamu
telah mendesak saya membeli asuransi jiwa.”
“Sebaliknya, apabila ibu mengatakan
“Tidak” pada saat bapak meninggal, ibu harus bisa menjelaskan kepada anak-anak
mengapa ayahnya tidak menyediakan dana bagi kebutuhan-kebutuhan mereka. Jadi
ibu bisa lihat sendiri, biarkan saja bapak yang menjawab pertanyaan ini.
Rupanya ini merupakan tanggung jawab bapak sendiri tanpa harus melibatkan ibu.
4. “Mati Lebih Berharga”
Keberatan lain yang sering muncul
adalah, “Dengan membeli asuransi, saya akan lebih berharga apabila mati.”
Yakinkan pada prospek seperti ini bahwa asuransi bukan dimaksudkan/tidak akan
menggantikan hidupnya. Uang yang ada di dunia ini pun tidak akan menggantikan
hidup seseorang. Tujuan asuransi adalah menggantikan penghasilan yang selama
ini dihasilkan oleh hidup mereka sendiri.
5. “Hanya Memperkaya Istri”
Apabila anda mendapatkan seorang
prospek yang mengatakan, “Buat apa saya membeli asuransi, itu hanya akan
membuat janda saya bertambah kaya ketika saya meninggal. Setelah itu mungkin
dia akan menikah lagi dengan laki-laki lain dengan tambahan uang asuransi atas
diri saya!”
Katakan padanya justru dengan tidak
membeli asuransi, dia memaksa istrinya menikah lagi apabila dia meninggal.
Seorang janda kaya tidak perlu menikah lagi, tetapi apabila janda yang
ditinggalkan tidak dibekali penghasilan yang cukup, dia tidak mempunyai pilihan
lain lagi. Dia harus mencari suami yang baru untuk menggantikan ayah dari
anak-anaknya.
6. “Saya Pikir-Pikir Dulu”
Bagaimana dengan prospek yang setelah
wawancara berakhir mengatakan demikian, “Menarik sekali. Programnya juga bagus,
tetapi saya pikirkan lagi!”
Saya katakana kepadanya, “Silakan
pikirkan lagi baik-baik. Saya akan tunggu sampai bapak/ibu memutuskannya.” Saya
katakan juga bahwa saya harus tetap berada disitu untuk menjawab semua
pertanyaan-pertanyaan mereka. Apabila kita pergi, mereka tidak akan
memikirkannyan lagi sampai kita kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar