Kamis, 08 Maret 2012

Industri Asuransi Jiwa Raup Premi Rp110,6 T


INILAH.COM, Jakarta - Meski krisis Eropa dan Amerika Serikat masih terus bergejolak, bisnis proteksi di Indonesia tetap tumbuh signifikan.

Industri asuransi jiwa selalu memperlihatkan prospek cemerlang dari tahun ke tahun. Berdasarkan data kinerja bisnis triwulan 4 (Q4) tahun 2011 (un-audited) yang terkumpul dari 43 perusahaan asuransi jiwa anggota Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total pendapatan industri asuransi jiwa nasional Q4/2011 mencapai Rp 110.61 triliun, tumbuh 7,99% dari posisi Q4/2010 (un-audited) yang sebesar Rp102,43 triliun.

Dari total pendapatan Q4/2011 tersebut, total pendapatan premi menjadi penyumbang terbesar yakni Rp94,43 triliun, atau tumbuh 24,28% jika dibandingkan dengan total pendapatan premi pada periode Q4/2010 yang sebesar Rp75,98 triliun. Adapun pendapatan premi tersebut terdiri dari pendapatan premi produksi baru (new business premium) pada Q4/2011 yang mencapai Rp67,65 triliun, meningkat sebesar 28,45% jika dibandingkan dengan Q4/2010 yang sebesar Rp 52,66 triliun.

Menariknya, pada pendapatan premi new business, premi tradisional berhasil menyaingi pendapatan premi dari unit linked. Pada Q4/2011 total premi new busines tradisional mencapai Rp33,90 triliun, tumbuh 71,2% dari posisi Q4/2010 yang sebesar Rp19,80 triliun. Sedangkan pendapatan premi new bussines dari unit linked hanya tumbuh 2,68% menjadi Rp33, 73 triliun pada Q4/2011 dari posisi Rp32,85 pada Q4/2010.

Namun, di sisi pendapatan premi lanjutan Q4/2011 yang sebesar Rp26,78 triliun, pendapatan premi lanjutan unit linked masih mendominasi dengan sumbangan sebesar Rp15,24 triliun, sedangkan premi lanjutan tradisional sebesar Rp11,53 triliun. Sehingga persentase total pendapatan premi tradisional berbanding dengan total pendapatan premi adalah sebesar 48,12%, sedangkan persentase total pendapatan premi unit linked terhadap total pendapatan premi adalah sebesar 51,88%.

Sementara itu, sumbangan pendapatan dari non premi tercatat sebesar Rp16,18 triliun, lebih rendah dari sumbangan pada periode Q4/2010 yang sebesar Rp26,45 triliun. Penurunan tersebut oleh karena penurunan sumbangan dari pendapatan hasil investasi pada Q4/2011 yang hanya sebesar Rp18,42 triliun, menurun 43,89% dibandingkan dengan Q4/2010 sebesar Rp23,92 triliun. ”Kami mensyukuri bahwa catatan new business sangat baik pada Q4 tahun 2011. Artinya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengantisipasi risiko dan membeli produk asuransi terus mengalami peningkatan. Ini berarti produk asuransi semakin terus diminati oleh masyarakat,” papar Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim pada siaran persnya mengenai Kinerja Asuransi Jiwa Nasional Q4 2011 di Jakarta, Jumat, (9/3/2012).

Hendrisman menambahkan, hingga akhir tahun 2011, industri asuransi jiwa terus berkembang sesuai dengan capaian pertumbuhan ekonomi. Demikian pula dalam beberapa tahun sebelumnya, kendati ada krisis melanda perekonomian, industri asuransi tetap eksis dan selalu mencetak pertumbuhan aset rata-rata di level 25 persen hingga 30 persen.

Ketua Bidang Keanggotaan dan Komunikasi AAJI, Albertus Wiroyo mengungkapkan, di tengah kondisi krisis yang melanda wilayah Eropa dan Amerika Serikat, perusahaan asuransi jiwa nasional tidak menyurutkan rencana investasi mereka. Terlihat dari total nilai investasi perusahaan asuransi jiwa nasional pada Q4/2011 yang tercatat mencapai Rp197,54 triliun, meningkat 25,55% jika dibandingkan dengan Q4/2010 yang sebesar Rp157,34 triliun.

Dari total investasi tersebut, sekitar Rp149,22 triliun atau 75,49 persen ditempatkan di instrumen pasar modal seperti saham obligasi, SUN dan reksadana. Penempatan dana investasi di pasar modal ini tumbuh 21,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp123,07 triliun.

Albertus menambahkan, pada Q4/2011 total klaim yang dibayarkan asuransi jiwa nasional tercatat Rp55,21 triliun atau meningkat 13,37% dibandingkan periode yang sama 2010 yang sebesar Rp48,70 triliun.

Dari sisi asset, Albertus mengatakan, pada Q4/2011 aset industri asuransi jiwa mengalami peningkatan, yakni mencapai Rp225,25 triliun, meningkat sebesar 28,88% dibandingkan dengan Q4/2010 Rp174,77 triliun. Begitu pula cadangan teknis pada Q4/2011 yang mengalami peningkatan 23,63% jika dibanding dengan periode Q4/2010 menjadi Rp177,88 triliun dari sebelumnya Rp143,89 triliun.

Sedangkan untuk total tertanggung (insured) pada Q4/2011 mengalami kenaikan sebesar 50,03% atau sejumlah 49.817.996 orang dibandingkan periode yang sama di 2010 yang berjumlah 33.206.052 orang. Dilihat secara terpisah, tertanggung kumpulan mengalami peningkatan jumlah tertanggung dibanding tahun sebelumnya. Sementara tertanggung perorangan mengalami penurunan.

Untuk tertanggung perorangan pada Q4/2011 sebanyak 8.991.932 orang atau turun sebesar 3,65% dibanding dengan periode Q4/2010 sebanyak 9.332.136. Sedangkan untuk tertanggung kumpulan mengalami kenaikan sebesar 71,01% dari posisi Q4/2010 yang berjumlah 23.873.916 menjadi sebanyak 40.829.063 pada Q4/2011.

Selain melakukan sosialisasi dalam upaya peningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia, AAJI juga terus meningkatkan kualitas para agen. Direktur Eksekutif AAJI Benny Waworuntu mengatakan, sebagai ujung tombak bisnis asuransi jiwa, posisi agen sungguh strategis. Itu sebabnya, sejalan dengan misi AAJI untuk menjadikan agen sebagai perencana keuangan atau financial planner bagi keluarga di Indonesia. Sejak 2010 AAJI telah melakukan program ‘100% Agen Asuransi Jiwa Berlisensi’. “Hal ini dilakukan untuk menciptakan standarisasi profesi agen, sehingga sistem dan pelayanan kepada nasabah menjadi lebih terukur dan berkualitas,” ujar Benny.

AAJI mencatat total agen telah berlisensi sampai dengan akhir Desember 2011 sebanyak 258.399 agen. “Ke depan, kami tentu akan terus meningkatkan jumlah agen yang telah berlisensi, sesuai dengan target AAJI memiliki 500.000 agen berlisensi pada tahun 2012. AAJI sendiri kini telah memiliki fasilitas sertifikasi yang sangat mumpuni dan bisa dimanfaatkan oleh seluruh anggota,” tambah Benny.