Senin, 04 Juli 2016

Nasihat Ayah

Nasihat Ayah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di bidang sastra dan bahasa. Setelah lulus SMP nanti, aku sangat ingin melanjutlan ke SMAN 75, tetapi orangtua ku tidak mendukung niat ku ini.

Saat di rumah, aku dan keluargaku sedang berkumpul di ruang tamu, ayahku mengawali percakapan dengan menanyakan nilai rapot bayangan ku yang sudah dibagikan.
“Nak bagaimana dengan nilai rapotmu? Apakah kamu puas dengan nilai rapotmu?” tanya ayah kepada ku.
“Alhamdulillah, Yah! Nilai rapotku lumayan bagus, hanya 2 mata pelajaran yang dibawah KKM” kata ku.
“Dan aku sudah cukup puas dengan nilai rapotku. Bagaimana dengan Ayah? Apa Ayah puas dengan nilai rapotku?” kata ku lagi.
“iya Nak, Ayah juga sudah puas dengan hasil belajarmu. Pesan Ayah! Agar kamu rajin belajar lagi, supaya nanti bisa masuk SMA Negeri.” kata Ayah dengan nada menasihati
... baca selengkapnya di Nasihat Ayah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Rabu, 29 Juni 2016

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)

Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2) Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Kalau kalian mau, kalian bisa bantu-bantu berdagang bersama kami, dari pada kalian menjadi gelandangan di luar sana,” sahut Ibu Rain lagi. Joe tersenyum. “Terima kasih, anda baik sekali,” katanya.
“Nah sekarang makan dulu,” kata Rain sambil menunjuk ke meja yang sudah reot. Joe merasa beruntung sekali. Baik sekali orang-orang ini, pikirnya, padahal mereka baru mengenalnya. Ia kemudian makan makanan yang telah dihidangkan dengan diam.
Ibu Rain kemudian mengeluarkan dua buah tikar. “Maaf sekali, tempat tidurnya kurang,” katanya malu-malu. Joe tersenyum kecil. “Tidak apa-apa Bu,” katanya.
Rain menoleh ke Abu. “Ibu, kurasa, Abu bisa tidur di tempat tidurku, kasihan dia, ia tidak boleh tidur di lantai,” katanya. Ibu Rain mengangguk. “Mari, Nak,” katanya ramah sambil membantu Abu bangun dan membawanya ke tempat tidur Rain.

Dalam sekejap rumah yang kecil itu langsung sunyi. Joe melihat jam tangannya.. Sudah pukul 1 pagi. Apa yang akan dikatakan Ibu Rita dan Pak Andre jika melihat anaknya telah menghilang? Joe tidak bisa tidur. Ia merasa bersalah sekali sudah membawa-bawa Abu.

“Nak, Nak? Bangun Nak,” bisik suara lembut yang menyentuh pipinya. Joe membuka matanya. Hari sudah cerah ternyata. “Sarapan sudah siap.”
Joe mengucek matanya dan memakai kembali kaca matanya. Tampak di meja reot itu ada setumpuk roti. Joe merasa tidak lapar,
... baca selengkapnya di Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2) Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Berikan Aku Seorang Ayah

Berikan Aku Seorang Ayah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Secarik kertas koran terbang dikipas angin dan tersangkut pada tiang listrik. Dari kejauhan bisa aku baca judul besar yang tertulis dengan warna merah pada halaman kertas itu yang mengingatkan saya akan natal yang kini tiba. Malam nanti adalah "Malam Kudus, Malam Damai". Dan setiap hati pasti mengimpikan agar di malam ini mereka bisa menemukan setitik kesegaran, menemukan secercah kedamaian yang dibawa oleh Allah yang menjelma.

Judul di kertas koran itu tertulis dalam Karakter khusus bahasa Cina; "Selamat Hari Natal: Semoga Harapan Anda Menjadi Kenyataan." Karena tertarik dengan judul tersebut, saya memungut kertas koran yang sudah tercabik dan kotor itu dan membacanya. Ternyata ini merupakan halaman khusus yang sengaja disiapkan bagi siapa saja agar menuliskan impian dan harapannya. Koran ini seakan berperan sebagai agen yang meneruskan harapan mereka agar kalau boleh bisa didengarkan oleh Santa Klaus atau oleh Allah sendiri. Ada kurang lebih tiga puluh harapan yang dimuat di halaman koran hari
... baca selengkapnya di Berikan Aku Seorang Ayah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Senin, 27 Juni 2016

Pesan Yang Kurang

Pesan Yang Kurang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sepi. Berat. Itulah yang setidaknya ku rasakan saat ini. Semua indraku belum berfungsi dengan baik. Telingaku, tengah berusaha menyempurnakan pendengarannya. Aku menarik nafas kembali. Mataku, masih terpejam dan seluruh tubuhku terasa kaku. Meski begitu, samar-samar ku dengar suara indah itu. Yang membuatku tenang dan sangat tenang. Hujan. Ya, suara hujan adalah nada terindah yang pernah ku dengar selama ini.

Tenagaku terasa memudar. Aku tau, aku tengah berbaring sekarang. Di suatu tempat yang bahkan aku sendiri belum mengetahuinya. Sebenarnya, bisa saja saat ini aku membuka mataku dan memeriksa dimana diriku sekarang. Tapi… aku. Aku ingin bersantai dulu. Ya, seperti ini. Dengan tubuh lemah, yang dapat ku lakukan memang hanya seperti ini bukan? Berbaring dengan memejamkan mata. Setidaknya ada suara rintik itu yang membuatku tak bosan. Sudahlah, kalau bisa aku ingin melakukan ini selamanya. Entah kenapa.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi padaku sebelumnya?

“hey.. cepat.. sadarlah sayang..”
Tunggu. Suara lembut itu? Suara lembut yang seolah menyadarkan bahwa aku harus cepat sadar, bahwa ada seseorang yang tengah menungguku kini, dan ya, aku bukanlah gadis malas yang senang membiarkan tubuhnya terus berdiam kaku. Aku, aku harus bangun sekarang..!
Jadi, suara siapa tadi? A.. Abang? Benarkah?
Ku kumpulkan seluruh tenaga yang masih tersisa untuk membuka pejaman ini. Sulit, sang
... baca selengkapnya di Pesan Yang Kurang Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah

Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SAAT ITU masih pagi. Embun yang turun malam tadi masih belum pupus dari permukaan dedaunan. Di sebuah tikungan sungai berair dangkal dan berwarna kuning seorang kakek tampak menarik jalanya dari dalam air. Kosong. Tak seekor ikanpun terjaring dalam jala itu.

"Nasib sial! Tak akan makan ikan perut tua ini hari ini!" si kakek mengomel. Dari balik dinding bambu sebuah rakit yang tertambat di tepi sungai keluar seorang nenek bertubuh gemuk, berpipi merah dan berambut keputihputihan digulung ke atas.

"Sudah kubilang Anom! Sejak sungai menjadi dangkal seminggu lalu, jangan harap kau bakal dapat menjaring ikan!"

Si kakek berpaling pada nenek gemuk yang adalah istrinya. Sambil merengut dia menyahuti ucapan istrinya itu.

"Kau orang perempuan diam-diam sajalah! Kalau dapat ikan tugasmu adalah memasaknya! Eh, sudahkah kau teliti lagi peta itu ...?"

"Peti celaka!" kata si nenek seraya duduk di tepi rakit dan cemplungkan kedua kakinya ke air.

"Coba kau hitung Anom! Sudah berapa lama kita menghabiskan waktu untuk memecahkan teka-teki peta itu? Dan sampai hari ini masih juga belum berhasil!"

"Seingatku . . . mungkin lebih dari tiga tahun!" menjawab si kakek setelah menghitung-hitung sesaat.

"Tiga tahun! Bukan waktu sedikit! Coba dulu kau ikuti nasihatku! Jika kau ambil pemuda cakap itu jadi muridmu
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Minggu, 26 Juni 2016

Tunanetra? Aku Bisa!

Tunanetra? Aku Bisa! Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Awalnya aku ragu dalam menghadapi hidup ini, banyak anak manusia yang memandang pertemanan hanya melalui fisik saja tanpa melihat dasar isi hati yang paling dalam. Aku ragu dalam memilah milih teman, apa lagi partner yang sesungguhnya sangat ingin sekali kumiliki.

Di sekolah, banyak sekali teman yang menjauhiku, mencampakkanku, dan menganggap ku tak ada. Aku sedih dan kecewa dengan semua yang dilakukan temanku. Apakah mungkin hanya karena keterbatasan fisik yang aku miliki, mereka tega melakukan perbuatan yang sudah ku anggap sangat keji itu? Atau adakah alasan lain yang lebih logis dan dapat dengan mudah ku terima tentang pembully-an – pembully-an yang mereka tindaskan padaku? Entahlah aku tak dapat berpikir apa-apa lagi tentang ini.

“Fitrah!” Seorang teman dari jauh memanggilku yang sedang mendengarkan rekaman yang sengaja ku rekam ketika guru bahasa Indonesiaku menerangkan suatu pelajaran. Tampaknya ia sedang membutuhkan bantuanku yang terlihat dari nada suaranya yang lirih. Atau jangan-jangan Ia hanya menjebakku agar aku terkecoh dan rencana yang telah di susun kawan-kawanku untuk membully-ku kembali terulang dan berhasil menggoreskan luka dihatiku.

Oh ya! Namaku Fitrah, Aku adalah anak perempuan penyandang tuna netra. Aku tidak sekolah di Sekolah Luar biasa memang. Kare
... baca selengkapnya di Tunanetra? Aku Bisa! Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Rabu, 22 Juni 2016

Habis Gelap, Terbitlah: TUKUL

Habis Gelap, Terbitlah: TUKUL Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Tukul Arwana adalah pelawak atau mungkin lebih sukses sebagai presenter yang saat ini termasuk dalam jajaran pesohor dengan bayaran tertinggi negeri ini. Keberhasilan luar biasa yang diperoleh Tukul sekarang sama sekali tidaklah diperoleh tanpa perjuangan. Walaupun terlihat banyak bercanda, namun kadang Tukul menyimpan kesedihan yang amat dalam terhadap sejumlah persoalan hidup yang dialaminya.

Tahun 1985, Tukul dan Joko mengikuti Lomba Lawak Mini Kata Nasional di Balai Sidang. Saat itu jurinya almarhum Arwah Setiawan dari Lembaga Humor Indonesia, Dono dari Warkop dan Asmuni dari Srimulat. Saat itu, grup lawaknya terpilih menjadi pemenang. Saat Tukul berpikir, dengan memenangi lomba lawak tingkat nasional maka dirinya akan kebanjiran order. Namun, kenyataan tidaklah begitu mudah. Bahkan semua koran yang dibelinya tidak ada satu pun yang memuat tentang kemenangannya. Perasaannya sangat sedih waktu itu.

Di saat belum sukses, Tukul sempat merasa nelangsa di saat pulang kampung. Tidak seperti yang dibayangkan orang, pulang kampung dengan membawa mobil dan penampilan oke. Namun kenyataannya, Tukul pulang kampung dengan badan kurus dengan langkah yang seperti melayang. Perasaan getir bercampur sedih tentu saja sering menghinggapi dirinya. Apalagi jika ketemu tetangga atau kawan yang menanyakan kondisinya di Jakarta. Sukseska
... baca selengkapnya di Habis Gelap, Terbitlah: TUKUL Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu