Kamis, 08 Maret 2012

Mayoritas Masyarakat Belum Punya Asuransi Memadai

 Mayoritas penduduk Indonesia masih belum memiliki asuransi yang memadai. Masyarakat yang mempunyai asuransi pun ternyata belum lepas dari potensi masalah karena terdapat protection gap atau kesenjangan proteksi yang signifikan. Selisih antara kebutuhan proteksi dan dana yang dimiliki untuk menutup proteksi mencapai Rp 105,7 juta per keluarga.

Demikian hasil survei PT GENERALI INDONESIA terhadap 1.208 responden di 10 kota yang bertajuk "Understanding Protection Gap of Life Insurance in Indonesia."

President Direktur PT.GENERALI INDONESIA  Edi Tuhirman, melalui survei yang  berlangsung Juli 2011 - September 2011 ini, pihaknya berharap bisa membangun pemahaman masyarakat terhadap kesenjangan proteksi tersebut. "Kami mengerti bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memiliki selisih antara kepemilikian dana dan rata-rata total dana yang dibutuhkan cukup signifikan, yaitu 77 persen. Artinya rata-rata hanya memiliki persiapan sebesar 23 persen. tentunya jumlah ini tidaklah besam dan cukup dalam memenuhi kebutuhan proteksi yang optimal tersebut," jelasnya.

Survei ini menyebutkan, sebanyak 60 persen responden sama sekali tidak memiliki asuransi ataupun cadangan untuk melindungi diri sendiri maupun keluarganya dalam mengantisipasi risiko kesehatan yang berpotensi memberikan dampak pada keuangan dan kondisi keluarga.

Industri Asuransi Indonesia Menjanjikan

HONG KONG, KOMPAS.com - Pemeringkat Fitch Ratings menyatakan prospek industri asuransi Indonesia baik untuk asuransi jiwa maupun non-jiwa adalah stabil. Hal ini didorong oleh kondisi ekonomi yang baik, permintaan yang berkesinambungan dan semakin bertambahkan permintaan cadangan modal dari regulator.

Demikian keterangan dari hasil kajian terbaru Fitch tentang industri asuransi Indonesia yang dikeluarkan di Hongkong, Senin (12/12/11)
Pendapatan premi diharapkan bertumbuh stabil, ditunjang oleh daya beli yang semakin besar serta kesadaran risiko yang harus ditanggung. Indonesia merupakan negara keempat terpadat di dunia, tetapi penetrasi industri asuransinya masih rendah. Walaupun sebenarnya potensi pertumbuhan cukup besar.
"Tidak seperti negara lain di Asia, seperti Korea Selatan dan Taiwan, industri asuransi jiwa Indonesia tidak terlalu terkena dampak terjadinya negative spread, yaitu beban biaya yang lebih besar dari hasil investasi," ujar Wan Siew Wai, Direktur Senior Tim Asuransi Fitch.
"Negative spread terjadi jika hasil investasi aktual jatuh di bawah tingkat pengembalian tetap yang dijanjikan oleh perusahaan asuransi. Produk yang ditawarkan di Indonesia tidak mengandung penjaminan imbal hasil tinggi dan tidak realistis," tambahnya lagi.
Namun, Fitch juga menandai bahwa industri asuransi kerugian Indonesiia memiliki utang besar karena banyaknya bencana alam di Indonesia. Sangat penting bagi sektor asuransi untuk terus mengelola dengan tepat kewajibannya mengingat dampak bencana yang dapat memengaruhi pendapatan perusahaan asuransi.
Industri asuransi Indonesia pernah terkena gelombang merger dan akuisisi pada tahun 2010/2011 karena investor lokal dan asing memperbanyak partisipasi mereka pada pasar yang menarik ini. Seiring langkah regulator yang juga meningkatkan persyaratan minumum permodalan, diperkirakan merger dan akuisisi akan terus bertambah.

Hitung Kebutuhan Asuransi Kita



http://assets.kompas.com/data/photo/2011/10/20/0813583620X310.jpg
SHUTTERSTCOK.COM
Ilustrasi

KOMPAS.com - Kebanyakan orang Indonesia kekurangan proteksi asuransi. Istilah pada dunia asuransi adalah underinsure. Alias proteksi yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan sebenarnya. Ujungnya, tentu akan kesulitan. Harapan besar bahwa asuransi akan menghapuskan kesulitan ketika kepala keluarga tidak mampu memberi nafkah, sirna sudah.

Banyak contohnya. Evita Carolina (39) warga Bekasi dengan tiga anak mengatakan membayar premi asuransi jiwa sebesar Rp 2,8 juta per tahun. Uang pertanggungannya hanya sebesar Rp 50 juta. ”Memang kurang, tetapi belum ada rencana menambah lagi,” ujar ibu rumah tangga yang baru melahirkan anak ketiganya ini. Nurul Pramudya (36) lebih ekstrim lagi. Dia hanya memiliki asuransi pendidikan sebesar Rp 10 juta untuk kedua anaknya. Padahal, sejak suaminya meninggal 9 tahun lalu, dia berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya. Jika terjadi risiko meninggal, kedua anaknya hanya akan menerima uang pertanggungan sebesar Rp 10 juta saja. ”Dahulu jumlah itu sudah terlihat besar, tetapi sekarang kecil sekali,” kata Nurul mengakui kecilnya uang pertanggungan yang dia miliki.

Sementara itu, Fitri Dharmayanti (40) seorang wanita pengusaha di Bengkulu mengatakan dia dan suaminya memiliki asuransi jenis unit link dengan uang pertanggungan Rp 500 juta. Tampaknya uang pertanggungan ini besar. Dengan biaya hidup sebesar Rp 8 juta per bulan, uang pertanggungan ini dapat memenuhi kebutuhan keluarganya selama lima tahun. Setelah lima tahun uang akan habis sementara anaknya yang masih bersekolah di sekolah dasar belum dapat memenuhi biaya hidupnya sendiri.

Mengapa kebanyakan nasabah asuransi tidak memiliki proteksi yang mencukupi kebutuhannya ? Hal itu terjadi karena nasabah sendiri tidak mengetahui berapa sebenarnya proteksi yang dibutuhkan. Sebagian besar orang membeli asuransi berdasarkan promosi dari agen asuransi, bukan kesadaran mencukupi kebutuhan proteksi. Jadi, antara kebutuhan dan proteksi yang ditawarkan tidak sebanding.

Selain kurang informasi dari agen asuransi, nasabah juga tidak memiliki kemampuan untuk menghitung berapa kebutuhan proteksinya. Padahal, caranya cukup mudah lho.
Cara menghitung
Ada beberapa metode digunakan untuk menghitung kebutuhan asuransi. Cara pertama adalah menghitung berdasarkan human live value. Metode ini menentukan uang pertanggungan asuransi berdasarkan berapa penghasilan dari seorang kepala keluarga yang disetahunkan. Penghasilan ini dikalikan dengan seberapa lama kira-kira dana tersebut diperlukan oleh ahli waris hingga ahli waris dapat mandiri. Biasanya, yang digunakan patokan untuk waktu ahli waris dapat mandiri adalah seusai dia selesai kuliah. Asumsinya, si anak atau ahli waris itu selesai kuliah dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri. Uang pertanggungan ini tidak memperhitungkan pertumbuhan dana jika disimpan di bank atau instrumen investasi lainnya.
Jadi misalnya sebuah keluarga Budi dengan ayah, Budi yang berusia 35 tahun, memiliki seorang istri yang tidak bekerja dan seorang anak yang berusia lima tahun. Penghasilan si ayah sebesar Rp 5 juta per bulan. Maka berdasarkan metode human live value, uang pertanggungan asuransi yang diperlukan adalah sebesar Rp 5 juta x 12 x 20 tahun = Rp 1,2 miliar.
Mengapa dikalikan dengan 20 tahun? Waktu 20 tahun itulah merupakan masa yang harus dilindungi. Mengingat si anak saat ini berusia 5 tahun, dalam waktu 20 tahun mendatang dia akan berusia 25 tahun, diharapkan sudah selesai kuliah dan dapat membiayai dirinya sendiri sehingga tidak tergantung lagi dari uang pertanggungan asuransi.
Sehingga keluarga ini memerlukan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 1,2 miliar untuk memproteksi keperluan keluarga selama 20 tahun.
Semakin tinggi uang pertanggungan, semakin tinggi pula premi yang harus dibayarkan. Jika untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1,2 miliar premi yang harus dibayarkan terasa mahal, cara ini dapat diganti dengan memperhitungkan pengeluaran, bukan pendapatan.
Seumpama dari pendapatan sebesar Rp 5 juta tersebut ternyata biaya kebutuhan keluarga sebesar Rp 4 juta, maka perhitungannya menjadi Rp 4 juta x 12 x 20 tahun = Rp 960 juta.
Masih ada cara untuk menghitung berapa besarnya uang pertanggungan asuransi, cara kedua adalah income based value (IBV). Dengan cara ini, perlu dihitung berapa dana yang harus diinvestasikan agar dapat menghasilkan uang sebesar Rp 4 juta sebulan seperti contoh di atas untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Dana itu harus diinvestasikan pada instrumen investasi yang aman. Saat ini, instrumen investasi yang dikategorikan aman dan memberikan imbal hasil di atas bunga perbankan adalah obligasi negara Indonesia (ORI).
Saat ini, tingkat suku bunga ORI sebesar 7,3 persen, dikurangi pajak 20 persen sehingga didapatkan hasil netto sebesar 5,84 persen per tahun atau 0,48 persen per bulan. Nah, untuk mendapatkan dana sebesar Rp 4 bulan sebagai pengeluaran per bulan dengan bunga sebesar 0,48 persen per bulan berapa besarnya investasi yang diperlukan ?
Cara perhitungannya, Rp 4 juta/0,48 persen = Rp 840 juta. Sehingga idealnya keluarga ini memiliki dana investasi bebas risiko sebesar Rp 840 juta untuk dapat memenuhi pengeluaran sebesar Rp 4 juta per bulan. Dari mana dana investasi ini ? Dana ini didapatkan dari uang pertanggungan asuransi. Sehingga dengan metode IBV, keluarga ini memerlukan uang pertanggungan sebesar Rp 840 juta agar dapat menghasilkan dana sebesar Rp 4 juta per bulan jika pencari nafkah meninggal.
Sementara cara ketiga disebut survival based value (SBV). Dengan cara ini, dihitung berapa utang yang harus dilindungi dan berapa penghasilan yang harus dilindungi sampai orang yang ditinggalkan (disebut survival) dapat bekerja. Metode ini mengasumsikan orang yang ditinggalkan akan bekerja dan akan bekerja setelah ditinggalkan kepala keluarga.
Jika menggunakan metode ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Semakin besar uang yang harus dibayarkan, semakin besar pula uang pertanggungan asuransi yang dibutuhkan. Selain itu, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak pengalaman yang dimiliki pasangan, diasumsikan semakin cepat pula dia mendapatkan pekerjaan. Faktor lain yang harus diperhitungkan juga adalah berapa besarnya dana darurat yang dimiliki keluarga tersebut.
Misalnya keluarga Danu (38). Danu berpenghasilan Rp 10 juta per bulan. Si istri, Ani berusia 30 tahun dan baru dua tahun tidak bekerja. Sebelumnya istri bekerja dengan gaji Rp 4 juta per bulan. Keluarga Budi membeli rumah dengan cara mencicil. Rumah tersebut berharga Rp 400 juta dan sisa utang mereka Rp 300 juta. Cicilan per bulan sebesar Rp 1,5 juta. Total pengeluaran keluarga ini Rp 8 juta per bulan. Keluarga Danu memiliki dana darurat sebesar Rp 50 juta. Berapa besar perlindungan yang harus dimiliki keluarga tersebut ?
Dengan memperhitungkan dana darurat yang sebesar Rp 50 juta, dengan pengeluaran Rp 8 juta berarti dana tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya hidup sehari-hari selama 6 bulan.
Selain itu, dengan memperhitungkan pengalaman kerja serta keahlian istri, diasumsikan dia akan mudah mendapatkan pekerjaan lagi setelah suaminya meninggal. Jika penghasilan terakhir Rp 4 juta, diperkirakan penghasilan istri jika bekerja kembali ada kenaikan 10 persen, berarti potensi pendapatan keluarga ini sebesar Rp 4,4 juta per bulan.
Ketika mengikat akad kredit, biasanya kreditor diasuransikan seumur kredit tersebut. Jadi jika meninggal, sisa tagihan KPR akan dilunasi oleh uang pertanggungan dari asuransi kredit tersebut. Jadi pengeluaran sebesar Rp 1,5 juta untuk membayar cicilan KPR tidak ada lagi. Biaya hidup turun dari Rp 8 juta – Rp 1,5 juta menjadi Rp 6,5 juta. Dengan pendapatan istri yang sebesar Rp 4,4 juta dan pengeluaran sebesar Rp 6,5 juta, keluarga ini masih kekurangan pendapatan sebesar Rp 2,1 juta per bulan. Jadi Rp 2,1 x 12 x 20 tahun = Rp 504 juta. Nah, Rp 504 juta inilah yang merupakan kekurangan yang harus ditutupi dari uang pertanggungan asuransi. Dengan uang pertanggungan asuransi sebesar Rp 504 juta ditambah dengan istri yang bekerja kembali, maka keluarga ini tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya jika pencari nafkah utama meninggal dunia.
Hasil perhitungan beberapa metode ini berbeda. Pilihlah yang sesuai dengan keadaan keuangan Anda. Jangan cemas dahulu jika hasil perhitungan menyebutkan Anda memerlukan uang pertanggungan hingga miliaran rupiah. Carilah jenis asuransi yang sesuai dengan kantong.
Untuk mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 1 miliar, jika Anda masih muda sekitar umur 30an dan sehat, biayanya hanya sekitar Rp 3 juta per tahun jika mengambil asuransi berjangka atau term life. Tentu uang premi akan semakin mahal jika usia bertambah dan kesehatan terganggu.
Oleh sebab itu, janganlah menunda membeli proteksi, demi keluarga tercinta. 

Cara Menghitung Premi Asuransi

Artikel Pendidikan Indonesia, Artikel Bahasa Indonesia, Artikel di Indonesia, Makalah Indonesia, Kumpulan JurnaL.

Cara Menghitung Premi Asuransi

Bagaimana cara perusahaan asuransi menghitung premi asuransi ?

Pertama, perusahaan asuransi menerapkan hukum bilangan besar. Filosofinya, risiko dan ketidakpastian semakin kecil bila jumlah yang diasuransikan mengalami peningkatan. Semakin besar jumlah orang yang masuk program asuransi jiwa, akurasi perkiraan terhadap kemungkinan kerugian asuransi semakin mudah dilakukan. Pada kondisi ini, perusahaan asuransi mampu mengantisipasi klaim asuransi di kemudian hari secara lebih akurat. Semain besar kelompok yang diasuransikan , kerugian yang akan dialami kelompok tersebut lebih mudah untuk diprediksi.


Contohnya, perusahaan PT asuransi akan menghadapi risiko besar ketika harus menutup pertanggungan asuransi bagi satu orang senilai Rp 100 juta selama satu tahun. Ketika jumlah orang yang diasuransikan mencapai 500 orang, tingkat ketidakpastian akan menurun meskipun risiko munculnya kejadian meninggal dunia tetap ada. Jika 500.000 berasuransi dalam satu kelompok , rata-rata tingkat fluktuasi kematian akan semakin menurun. Dengan demikian, perusahaan asuransi jiwa mampu mengantisipasi klaim asuransi secara lebih akurat.


Kedua, perusahaan asuransi jiwa menghitung premi berdasarkan hasil statistik dalam tabel tingkat mortalitas. Ini berbicara tentang tingkat mortalitas atau kematian pada setiap tingkatan usia. Tabel statistik ini merupakan catatan mortalitas yang diobservasi pada periode waktu sebelumnya. Dari hasil observasi, perusahaan asuransi membuat angka rata-rata sebagai tolak ukur untuk pembuatan ilustrasi probabilitas tingkat harapan hidup pada setiap kelompok usia.


PT asuransi
menggunakan tabel mortalitas sebagai elemen utama dalam menghitung premi asuransi. Selain itu, perhitungan didasarkan pada besarnya biaya administrasi, biaya distribusi dan asumsi tingkat suku bunga. Besarnya elemen nonmortalitas ini bergantung pada kebijakan setiap perusahaan asuransi.



Secara umum, penentuan tingkat premi setiap perusahaan asuransi jiwa mengacu pada empat prinsip, yakni
(1) premi asuransi akan dihitung dengan mempertimbangkan besarnya sebuah kelompok tertanggung. Prinsip rata-rata dan probabilitas hanya dapat berjalan jika diterapkan pada kelompok yang cukup besar. Semakin besar sebuah kelompok tertanggung, perhitungan preminya semakin mendekati hasil yang diperkirakan

(2) meskipun tidak diketahui kapan dan bagaimana setiap anggota kelompok akan meninggal dunia nantinya, pengalaman masa lalu cukup baik digunakan sebagai pedoman perkiraan di masa depan

(3) perusahaan asuransi jiwa membayar klaim polis asuransi jiwa yang diterbitkan dari sekumpulan dana hasil kontribusi para pemegang polis

(4) setiap peserta berkontribusi pada akumulasi dana sesuai dengan tingakt risiko yang dimilikinya. Orang yang berusia lebih lanjut akan membayar tingkat premi lebih tinggi ketimbang mereka yang berusia lebih muda.


Dengan mengetahui cara perhitungan premi, seyogyanya kita menyadari bahwa kesadaran aktif untuk berasuransi sejak dini amat menentukan besarnya premi yang harus kita bayar. Pengelolaan risiko keuangan adalah wujud tanggung jawab kita kepada keluarga. Cara bijaknya adalah memindahkan risiko keuangan kepada perusahaan asuransi dengan membeli produk asuransi jiwa. Ini untuk mengurangi beban keuangan di masa mendatang akibat munculnya kemalangan/musibah dan ketidakpastian. Jangan tunda keputusan untuk berasuransi karena datangnya musibah tak pernah bisa diduga. Segera hubungi perusahaan asuransi atau agen asuransi yang anda kenal.


arsasi.wordpress.com

Rabu, 07 Maret 2012

Lowongan Bisnis Asuransi


Diposkan oleh Iwan Generali

PT.Asuransi Jiwa Generali Indonesia  mengajak anda sukses bersama kami Agen Generali Life Insurance, Perusahaan Asuransi Terbesar di Indoensia dan Eropa yang terus berkembang. Jika anda :

1.Laki-Laki / Wanita;
2.Umur 17 tahun ke atas;
3.Pendidikan minimal SMU (yang masih sekolah dan kuliah juga boleh);
4.Berkeinginan untuk maju,dan berkembang;
5.Memiliki motivasi untuk sukses;
6.Ingin mendapatkan reward keliling dunia dan income yang tidak terbatas;
7.Tidak dibutuhkan pengalaman tetapi dibutuhkan kemauan;
8.Dibimbing oleh trainer-trainer yang handal dan Qualified.


Agency Office:
Jl.H.Misbah Komplek Multatuli Indah Blok CC No.25-28  Medan – SUMUT 20151,Indonesia
Telp.+6261 4514133
Mobile.+62821 6407 3585
PT.Asuransi Jiwa Generali Indonesia
Cyber 2 Tower,30th Floor
Jln.HR.Rasuna Said Blok X-5 No.13,Jakarta 12950
Telp.+6221 2996 3777   
Fax.+6221 2902 1717
E-mail:care@generali.co.id
Website:www.generali.co.id

MOTIVASI ADALAH UANG


Diposkan oleh Buniwan
Berapa besar sebuah motivasi memberikan pengaruh positif terhadap diri anda ? Apakah anda termasuk tipe orang yang harus selalu mendapatkan motivasi sebelum mendapatkan satu peluang, maka tanpa disadari anda sudah termotivasi dengan sendirinya ?

Coba tanyakan hal itu pada diri anda, apakah anda termasuk tipe yang pertama, maka ulasan berikut ini akan menjadi sebuah pemicu positif bagi anda.

Dalam ulasan saya ini terdapat beberapa motivasi peraktis yang erat kaitannya dengan praktek penjualan yang pintar, pendekatan prospek yang mengagumkan dan cara mengatasi keberatan prospek. Ini berdasarkan dalam pengalaman-pengalaman nyata seorang pemasar besar Asuransi Jiwa, BERT PALO.

Motivasi adalah uang, itu yang dinyatakan Bert. Apabila anda sudah mendapatkan motivasi dari ulasan ini, maka uang akan datang kepada anda.

Perhatikan petikan pernyataan dari BERT PALO :
“Menjual asuransi adalah agama, obsesi dan perang suci. Tidak ada hal lain yang mampu menggantikannya. Sebab itulah saya berusaha keras agar setiap orang memiliki asuransi. Terima kasih Tuhan, Kau telah menciptakan aku sebagai Agen Asuransi”.

Bert Palo seorang lulusan dari Ohio State University. Sebelum memulai karirnya dalam bisnis asuransi, dia telah mengajar selama 25 tahun. Barulah pada tahun 1954, ia menjadi agen full time di Prudential Insurance Company of America.

Dalam 3 bulan pertama, Bert berhasil memperoleh penghasilan sebesar $500.000. Setelah melalui masa 6 bulan, ia menunjukkan peningkatan yang cukup mencolok yaitu $2,560,000. Dalam selang waktu 3 tahun, Bert diperkirakan berpenghasilan sebesar $6 juta dan menjadi salah satu anggota Million Dollar Round Table.

Keyakinan Yang Besar
Keyakinan anda terhadap bisnis ini, sehingga anda akan terus bertahan dalam bidang pemasaran. Apabila dikaitkan dengan bisnis asuransi yang anda tekuni, maka anda akan memahami dengan baik bagaimana melakukan pendekatan kepada prospek, bagaimana anda berusaha keras menolaksetiap jawaban “Tidak!”. Apabila anda merasa yakin terhadap produk yang anda miliki, sebagaimana anda meyakini produk yang anda jual, saya rasa anda dapat menerapkan ide-ide sederhana.

Pekerjaan Mulia
Tidak ada hal lain yang mampu menggantikan asuransi jiwa, itulah keyakinan saya. Asuransi merupakan satu-satunya instrumen keuangan terbaik yang pernah diciptakan setiap orang. Apakah anda yakin akan hal ini? Cukup yakin hingga anda mau membeli sebanyak-banyaknya?

Seorang pemasar asuransi melakukan pekerjaan yang paling mulia di dunia ini. Produk yang dijual merupakan yang terbaik yang pernah ada di dunia ini.Tetapi disisi lain, dia melakukan pekerjaan yang sangat sulit yaitu meminta orang-orang untuk mengeluarkan uang sejumlah ratusan ribu bahkan jutaan rupiah hanya untuk mendapatkan selembar kertas. Agar transaksi penjualan berhasil, merupakan tantangan bagi kita untuk membuat kertas itu menjadi sesuatu yang hidup, bernapas dan benar-benar nyata. Ini bukan pekerjaan yang mudah.

Kita harus menjual besok, bukan hari ini. Kita harus menjual rasa aman, kedamaian, martabat seorang manusia, kebebasan akan rasa takut, kebebasan atas keinginan. Setiap orang memerlukan asuransi.

Diantara kita, sesama pemasar asuransi bukanlah pesaing bisnis. Kita adalah kolega. Pesaing kita yang sesungguhnya adalah para pemasar produk-produk yang nyata seperti mobil, TV, lemari es dll. Merekalah yang seringkali mengalihkan arus uang yang seharusnya masuk ke dalam asuransi jiwa malah menjadi bentuk yang lain. Hanya dengan penjualan melalui hati, barulah kita bisa mendapatkan bagian yang memang seharusnya menjadi anggaran untuk asuransi mereka.

Seberapa Tinggi Anda Capai
Apa yang anda inginkan dalam hidup ini? Berapa penghasilan yang anda kehendaki – Rp.100 juta setahun? Dalam bisnis kita, berapapun angka yang ditetapkan bukanlah sebuah patokan, kita tinggal menyebutkannya saja. Tidak ada batasan penghasilan dalam bisnis ini. Tidak mengherankan apabila semakin giat bekerja, semakin baik kita melakukannya. Semakin baik melakukannya, semakin banyak penghasilan yang kita capai – Rp.200 juta, 300 juta atau 400 juta. Apakah ada pekerjaan lain yang sama dengan yang kita miliki?

Prospek adalah Orang
Dalam bisnis ini tanpa prospek kita mati. Kita tahu rahasia prospecting yang baik adalah berjumpa dengan orang dan dilanjutkan dengan perbincangan.

Siapapun yang anda jumpai sopir taksi, petugas elevator, pelayan toko atau restoran, selalu ajak bicara tentang asuransi. Anda minta mereka untuk membeli asuransi, kemungkinan terburuknyanadalah mereka menjawab ‘Tidak!”. Pada umumnya mereka akan menolak, tetapi menurut hukum rata-rata, beberapa orang dari mereka pasti membeli.

Pentingnya Keberatan Prospek


Diposkan oleh  Buniwan
Ketidakmampuan beberapa agen kita dalam mengatasi keberatan prospek telah menyebabkan mereka gagal dalam menjalankan bisnis ini. Padahal penolakan adalah salah satu bagian terpenting dalam bsinis kita ini.

Coba kita bayangkan seandainya orang-orang yang membeli asuransi sama sekali tidak mengajukan penolakan-penolakan terhadap produk yang kita tawarkan, saya yakin perusahaan akan menjual asuransi melalui mesin-mesin penjual dipasang di terminal, stasiun, bandara dan dimana saja seperti produk rokok ataupun minuman soda. Orang hanya perlu memasukan uang kedalamnya dan keluarlah selembar polis.Lalu bagaimana saya dan anda sebagai pemasar asuransi?

Klien yang menolak membeli pada umumnya hanya merasa kurang yakin. Keberatan mereka sesungguhnya bisa diartikan sebagai permohonan bantuan. Yakinlah akan hal ini. Saya selalu mengharapkan adanya keberatan-keberatan dari prospek. Karena bagi saya hal ini merupakan satu-satunya jalan untuk mengetahui apa yang dirasakan prospek. Saya yakin apabila prospek tidak menyampaikan keberatan-keberatan mereka, maka wawancara tersebut kan gagal.